PENERAPAN SEPAK BOLA MINI PADA MATA PELAJARAN PJOK



BAB II
KAJIAN TEORETIK

A.    Kajian Teoritik
1.      Pengertian Pendidikan  Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Terdapat banyak definisi pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang disampaikan oleh para pakar, antara lain : Pendidikan jasmani olahraga dan keshatan sebagai proses pendidikan via gerak insane (human movement) yang dapat berupa aktifitas jasmani, permainan atau olahraga untuk mencapai tujuan pendidikan. Sejalan dengan upaya mencapai tujuan pendidikan maka dalam pendidikan jasmani dikembangkan potensi individu, kemampuan fisik, intelektual, emosional, sosial dan moral spiritual (Rusli Lutan, 1992:7).
Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan interaksi antara peserta didik dengan lingkungan secara sistematis untuk membentuk manusia seutuhnnya. Pembentukan sumber daya manusia diarahkan pada manusia pancasilais, berbudi pekerti luhur lewat pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dengan memperhatikan model pembelajaran serta skema pembelajaran (Sukintaka, 1992:9).
Menurut Pangrazi (2011:4) menyatakan bahwa Penjasorkes adalah bagian integral dari suatu proses pendidikan secara keseluruhan yang memberikan sumbangan pertumbuhan dan perkembangan total pada setiap anak, terutama melalui latihan gerak.
 Abdul Kadir Ateng, (1989:6) mengemukakan bahwa penjasorkes dilakukan dengan sarana jasmani, yakni aktifitas jasmani yang pada umumnya dilakukan dengan tempo yang cukup tinggi dan terutama gerakan-gerakan besar, ketangkasan, keterampilan yang tidak terlalu harus dan sesempurna atau berlkualitas tinggi, agar diperoleh manfaat bagi siswa. Meskipun sarana pendidikan tersebut fisikal, manfaat bagi siswa mencakup bidang-bidang nonfisik seperti intelektual, sosial, estetik, dalam kawasan-kawasan kognitif maupun afektif.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa Penjasorkes merupakan bagian integral dari suatu proses pendidikan melalui aktifitas gerak insani dan interaksi antara peserta didik dengan lingkungan secara sistematis untuk membentuk manusia seutuhnya.
2.      Tujuan Penjasorkes
Menurut Sukintaka (2004: 15), Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan bukan merupakan pendidikan tentang problem tubuh, akan tetapi merupakan pendidikan tentang problem manusia dan kehidupan yang mempunyai 3 ranah tujuan, yaitu :
1)      Jasmani dan Psikomotor, meliputi:
Ø  Kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan kardiovaskuler, dan kelentukan
Ø  Persepsi gerak, gerak dasar, keterampilan, olahraga dan tari
2)      Kognitif, meliputi:
Ø  Pengetahuan
Ø  Keterampilan intelektual
3)      Afektif, meliputi:
Ø  Sehat
Ø  Respek gerak
Ø  Aktualisasi diri
Ø  Menghargai diri
Ø  Konsep diri
Adang Suherman (2012:23) menyatakan secara umum tujuan Penjasorkes dapat diklasifikasikan ke dalam empat katagori, yaitu :
1)      Perkembangan Fisik
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan aktivitasaktivitas
yang melibatkan kekuatan-kekuatan fisik dari berbagai organ tubuh seseorang (physical fitness).
2)      Perkembangan Gerak
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan gerak secara
efektif, efisien, halus, indah, sempurna (skillful).
3)      Perkembangan Mental
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan berpikir bagaimana  menginterprestasikan keseluruhan pengetahuan tentang Penjasorkes ke dalam lingkungannya sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya
pengetahuan, sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya pengetahuan, sikap dan tanggung jawab siswa.
4)      Perkembangan Sosial
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat Sedangkan menurut Rusli Lutan dalam Rubianto Hadi (2001:7)  tujuan Penjasorkes adalah untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan gerak mereka, disamping agar mereka merasa senang dan mau berpartisipasi dalam berbagai aktivitas.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang tujuan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Sekolah dapat digolongkan ke dalam empat aspek yaitu aspek fisik, aspek psikomotorik, aspek kognitif, dan aspek afektif.
3.      Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman untuk merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial (Agus Salim, 2008:7).
 Model pembelajaran merupakan sebuah rencana yang dimanfaatkan untuk merancang pengajaran. Isi yang terkandung di dalam model pembelajaran adalah berupa strategi pengajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan  instruksional. Contoh strategi pengajaran yang bisa guru terapkan pada saat proses belajar mengajar adalah manajemen kelas, pengelompokkan siswa, dan penggunaan alat bantu pengajaran.
Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. (Winke, dkk. 2006 :6)
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Selain itu, model pembelajaran juga berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran baik dalam rencana pelaksanaan ataupun untuk menyusun silabus pembelajaran yang akan digunakan.
4.      Modifikasi Permainan
Menurut Yoyo Bahagia (2012:1) menyatakan bahwa dalam suatu pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Penjas di sekolah, bisa dilakukan dengan menggunakan modifikasi. Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan developmentally appropriate practice, yang artinya bahwa tugas ajar yang diberikan harus memperhatikan perubahan kemampuan anak dan dapat membantu mendorong perubahan tersebut. Oleh karena itu tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajarnya. Tugas ajar yang sesuai ini harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan perbedaan karakteristik setiap individu serta mendorongnya ke arah perubahan yang lebih baik.
Masih menurut Menurut Yoyo Bahagia (2012:31-32) menyatakan bahwa modifikasi permainan olahraga dapat dilakukan dengan melakukan pengurangan terhadap struktur permainan. Struktur-struktur tersebut diantaranya: (1) Ukuran Lapangan, (2) bentuk, (3) ukuran dan jumlah peralatan yang digunakan, (4) jenis skill yang digunakan, (5) aturan, (6) jumlah pemain, (7) organisasi permainan dan (8) tujuan permainan. Lebih lanjut menurut Knut Dietrich (2005:12-13) menjelaskan bahwa dalam permainan Sepak bola bisa dilakukan dalam bentuk modifikasi. Modifikasi tersebut bisa dilakukan pada hal: (1) perubahan jumlah pemain yang ikut, (2) perubahan ukuran lapangan dan peralatan, dan (3) perubahan peraturan permainan.
Pangrazi (2011:488) menyatakan bahwa suatu permainan bisa dimodifikasi dan diciptakan dalam bentuk variasi baru yang dapat dilakukan oleh guru atau anak dan bahkan keduanya.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan developmentally appropriate practice. Modifikasi permainan dapat dilakukan dengan cara melakukan pengurangan terhadap struktur permainan dan dapat juga membentuk variasi permainan baru.
5.      Manfaat Modifikasi Permainan
Modifikasi permainan memiliki beberapa manfaat yang sangat penting. Menurut Yoyo Bahagia (2012:1) menyatakan bahwa modifikasi memiliki esensi untuk menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar secara potensial yang dapat memperlancar siswa dalam belajaranya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, dari tingkat yang tadinya lebih rendah menjadi memiliki tingkat yang lebih tinggi.
Berkaitan dengan modifikasi olahraga atau permainan yang diterapkan dalam pembelajaran Penjas di sekolah, Gusril (2012:46-48) menyatakan bahwa modifikasi memiliki keuntungan dan keefektivitasan, yang meliputi:
1)      Meningkatkan Motivasi dan Kesenangan Siswa dalam Pembelajaran Penjasorkes.
Orientasi pembelajaran olahraga dan permainan yang dimodifikasi ke dalam Penjas, yaitu: menimbulkan rasa senang (gymfun). Anak yang mengikuti pembelajaran dengan rasa senang, tentu akan mendorong motivasinya untuk berpartisipasi dalam mengikuti pembelajaran Penjas. Akhirnya anak akan memiliki kesempatan untuk aktif bergerak, sehingga tujuan pembelajaran untuk meningkatkan kebugaran anak akan tercapai.
2)      Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa.
Prinsip dalam modifikasi olahraga dan permainan adalah aktivitas belajar (learning activities). Oleh karena itu dalam pembelajaran Penjasorkes, yang perlu ditekankan adalah memanfaatkan waktu dengan aktivitas gerak. Menurut Jones (1995) yang dikutip oleh Yoyo bahagia (2012:47) menyatakan bahwa dalam pembelajaran Penjasorkes guru harus dapat memanfaatkan 50% dari waktu yang tersedia dengan aktivitas gerak. Sebagai contoh apabila waktu yang tersedia dalam pembelajaran Penjas di SMP adalah 70 menit, maka 35 menit harus dimanfaatkan untuk aktivitas gerak anak. Berkaitan dengan hal ini, maka seorang guru harus bisa dituntut untuk mendesain pembelajaran Penjasorkes sedemikian rupa, baik materi, metode, dan organisasi pembelajaran yang efektif.
3)      Meningkatkan Hasil Belajar Penjasorkes Siswa
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa prinsip pembelajaran yang menggunakan modifikasi adalah aktivitas belajar dan kesenangan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk beraktivitas tinggi dan memberikan pengalaman gerak yang banyak
4)      Mengatasi Kekurangan Sarana dan Prasarana
Salah satu pendukung dalam proses pembelajaran Penjasorkes adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang ada. Sarana merupakan alat yang digunakan dalam Penjas, sedangkan prasarana menunjukkan kepada tempat atau lapangan yang digunakan dalam Penjasorkes. Untuk menciptakan proses pembelajaran penjasorkes yang berkualitas baik, maka diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. Apabila ketersediaaan sarana dan prasarana tidak memadai, maka seorang guru perlu dituntut untuk berkreatifitas atau menciptakan suatu bentuk modifikasi untuk mengatasi permasalahan sarana dan prasarana tersebut. Sebagai contohnya, apabila di sekolah tidak memiliki lempar cakram. Maka untuk mengajarkan materi lempar cakram, bisa menggunakan ban bekas sebagai pengganti cakram yang akan digunakan.
Menurut Mutohir (2000:108) menyatakan bahwa modifikasi olahraga mendorong anak untuk melakukan tugas gerak dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi ketimbang pendekatan tradisional. Apabila pengalaman gerak anak sudah banyak tentu akan memberikan kontribusi pada peningkatan kebugaran jasmaninya. Kebugaran jasmani merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk modal dasar dalam mendapatkan hasil belajar yang optimal.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa modifikasi permainan sangat bermanfaat untuk menganalisa dan mengembangkan materi pelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran, meningkatkan aktivitas belajar siswa, meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat mengatasi kekurangan saranan dan prasarana dalam pembelajaran Penjasorkes.
6.      Belajar Keterampilan Gerak
Banyak ahli yang telah membuat rumusan pengertian tentang belajar. Belajar bisa dipandang sebagai suatu proses, fungsi, atau hasil. Belajar adalah suatu proses yang bisa menghasilkan perubahan kemampuan yang bisa bertahan dalam jangka waktu yang relatif lama, dimana prosesnya terjadi melalui pengalaman yang berulang-ulang.
Belajar dalam pengertian Hergenhahn dan Olson (1993) yang dikutip oleh Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra (2010:40) didefinisikan sebagai perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman dan tidak bercirikan tanda-tanda yang disebabkan oleh pengaruh yang sifatnya sementara yag disebabkan oleh sakit, kelelahan atau pengaruh obat-obatan.
Belajar gerak adalah belajar yang diwujudkan melalui respon-respon yang diekspresikan melalui gerakan tubuh atau bagian tubuh. Di dalam Pesjasorkes pembelajaran gerak berperan dalam aspek-aspek pengembangan keterampilan gerak tubuh, penguasaan pola-pola gerak keterampilan olahraga, dan pengekspresian pola-pola perilaku personal dan interpersonal yang baik di dalam pertandingan dan tari.
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar keterampilan gerak merupakan kegiatan belajar yang berlangsung melalui respons fisik yang dapat diamati secara langsung. Pengembangan suatu keterampilan gerak sampai ke tingkat gerak yang otomatik, merupakan suatu proses yang panjang.
7.      Karakteristik Siswa SMP
Usia siswa SMP adalah sekitar 13 sampai dengan 15 tahun dalam psikologi perkembangan, usia tersebut dinamakan fase anak sekolah. Pada masa ini anak menemukan banyak sekali hal baru dan sangat dipenuhi rasa ingin tahu. Di lingkungan sekolah siswa sudah harus melatih dirinya untuk mandiri dan tidak selalu tergantung kepada orang tua lagi. Mereka harus membiasakan diri untuk menjadikan guru sebagai orang tua dan teman-teman sebagai saudara mereka di lingkungan sekolah. Dari sanalah mereka akan mulai mengembangkan dirinya untuk bisa beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan barunya itu. Sehingga seiring dengan berjalannya waktu mereka akan tumbuh secara matang, baik dari aspek fisik ataupun jiwanya. Akan tetapi orang tua harus selalu aktif mendukung dan memberi arahan kepada anak saat mereka berada di rumah. Pada fase ini, anak memiliki ciri perkembangan sebagai berikut:
a.       Perkembangan Intelektual
Pada usia SMP daya pikirnya sudah berkembang ke arah berfikir konkret dan rasional. Piaget menamakannya sebagai masa operasi konkret, masa berakhirnya berfikir khayal dan mulai berfikir yang berkaitan dengan dunia nyata.
Pada periode ini ditandai dengan tiga kemampuan baru yaitu menglasifikasikan, menyusun, dan mengasosiasikan angka atau bilangan. Kemampuan yang berkaitan dengan perhitungan seperti menambah, mengurangi, mengalikan, dan membagi angka. Pada akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana.
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola fikir atau daya nalarnya. Anak sudah dapat diberi dasar-dasar keilmuan seperti membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, anak juga sudah dapat diberi pengetahuan-pengetahuan tentang manusia, hewan, lingkungan alam sekitar dan sebagainya. Untuk mengembangkan daya nalarnya dengan melatih anak untuk mengungkapkan pendapat, gagasan atau penilaian terhadap berbagai hal, baik yang dialaminya maupun peristiwa yang terjadi di lingkungannya.
Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak, maka sekolah dalam hal ini sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengajukan pertanyaan, komentar, atau pendapatnya tentang materi pelajaran yang dibacanya atau dijelaskan guru, membuat karangan, menyusun laporan hasil study tour atau diskusi kelompok.
b.      Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar, atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Usia anak Sekolah Menengah Pertama ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Pada awal masa ini anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata dan pada masa akhir (usia 13-15 tahun) telah dapat menguasi sekitar 50.000 kata (Syamsu Yusuf 2010; 12) dengan dikuasainya keterampilan membaca dan komunikasi dengan orang lain, anak akan mulai gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis misalnya tetang petualangan, perjalanan, atau riwayat para pahlawan. Pada masa ini tingkat berfikir anak sudah lebih maju, mereka banyak menanyakan soal waktu dan sebab-akibat.
Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa:
1)      Proses menjadi matang, dengan kata lain anak itu menjadi matang organ-organ suaranya untuk berkata-kata.
2)      Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan cara meniru ucapan yang didengarnya.
Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak sehingga pada usia anak memasuki Sekolah Menengah Pertamasudah sampai pada tingkat: (1) dapat membuat kalimat yang lebih sempurna, (2) dapat membuat kalimat majemuk, (3) dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.
c.        Perkembangan Sosial
Maksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Hal ini juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi, dan moral (agama). Perkembangan sosial pada anak-anak Sekolah Menengah Pertama ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan keluarga dia juga membentuk ikatan baru dengan teman sebayanya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya sudah bertambah luas. Pada usia ini anak mulai memiliki kemampuan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang koperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperdulikan kepentingan orang lain). Anak dapat berminat terhadap kegiatankegiatan teman sebayanya dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok. Anak tidak merasa senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya.
Anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya berkat perkembangan sosial mereka. Kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan dengan memberikan tugas-tugas kelompok berkaitan dengan proses belajar yang berlangsung di sekolah.
Tugas-tugas kelompok ini harus memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menunjukkan prestasinya, tetapi juga harus diarahkan untuk mencapai tujuan bersama. Peserta didik dapat belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati, dan bertanggung jawab melalui pelaksanaan tugas kelompok yang diberikan.
d.       Perkembangan Emosi
Menginjak usia SMP, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidak dapat diterima di masyarakat. Olah karena itu dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengotrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan atau pembiasaan. Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang suasana emosinya stabil, maka perkembangan emosi anak akan cenderung stabil. Akan tetapi jika kebiasaan orangtua kurang dapat mengontrol dalam mengekspresikan emosinya, maka perkembangan emosi anak akan cenderung kurang stabil. Emosi-emosi yang secara umum dialami dalam masa perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan kegembiraan.
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk juga perilaku belajar. Emosi yang positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk memusatkan dirinya terhadap aktivitas belajar.
Namun jika proses belajar itu dibarengi dengan emosi negatif seperti perasaan tidak senang, kecewa, atau tidak bergairah, maka proses belajar akan mengalami hambatan. Kemungkinan besar anak akan mengalami kegagalan dalam belajarnya dikarenakan dia tidak bisa memusatkan perhatiannya untuk belajar. Karena itulah guru harus mempunyai keperdulian untuk menciptakan situasi belajar yang kondusif dan menyenangkan untuk terciptanya proses belajarmengajar yang efektif. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru, antara lain:
1)      mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan, misalkan dengan cara memperbanyak senyum dan tidak judes;
2)      memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunyai harga diri;
3)      misalkan dengan cara menghindari diskriminasi, mencemooh, dan perbuatan yang dapat membuat anak sakit hati;
4)      memberikan nilai secara objektif;
5)      menghargai hasil karya peserta didik, dan sebagainya.
e.       Perkembangan Moral
Anak mulai mengenal konsep moral (benar-salah atau baik-buruk) pertama kali dari lingkungan keluarga. Anak pada mulanya mungkin belum dapat mengerti tentang konsep moral ini, tetapi lambat laun dia pasti akan memahaminya. Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini merupakan hal yang harus dilakukan oleh keluarga karena informasi yang diterima anak mengenai benar-salah atau baik-buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya dikemudian hari.
Pada usia Sekolah Menengah Pertama anak sudah dapat mengikuti pertautan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu anak juga sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk. Misalnya dia memandang atau menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua dan guru merupakan suatu yang benar atau baik.
f.       Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Periode usia Sekolah Menengah Pertama merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya. Pendidikan keagamaan sangat penting pengaruhnya bagi perkembangan jiwa dan rohani anak yang harus diarahkan ke arah yang positif sehingga nantinya dalam proses menuju kedewasaan akan membentuk pribadinya. Kualitas keagamaan anak akan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya. Berkaitan dengan hal tersebut, pendidikan agama di sekolah memiliki peranan yang sangat penting. Oleh karena itu pendidikan agama di Sekolah Menengah Pertama harus menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di sekolah dasar, bukan hanya guru agama tetapi kepala sekolah dan guru-guru lainnya bahkan orangtua anak juga harus berperan aktif di dalam lingkungan keluarga. Apabila semua pihak itu telah menjadi suri teladan yang baik dalam melaksanakan nilai-nilai agama, maka pada diri peserta didik akan berkembang sikap yang positif terhadap agama dan selanjutnya akan berkembang pula kesadaran beragama pada dirinya.
g.       Perkembangan Motorik
Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandai dengan adanya kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik ini seperti menulis, menggambar, melukis, mengetik, berenang, dan olahraga lainnya.
Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan ataupun keterampilan. Oleh karena itu perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan belajar peserta didik. Pada masa usia Sekolah Menengah Pertama perkembangan motorik ini pada umumnya dicapai, karena itulah mereka sudah siap untuk menerima pelajaran keterampilan.
Sesuai perkembangan fisik (motorik) maka di kelas-kelas permulaan sangat tepat diajarkan:
1)      Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar,
2)      Keterampilan dalam menggunakan alat-alat olahraga,
3)      Gerakan-gerakan untuk berlari, meloncat, dan sebaginya,
4)      Baris-berbaris sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban, dan kedisiplinan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik anak yang berusia sekitar 13 sampai 15 tahun, usia tersebut digolongkan ke dalam usia anak SMP. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dilihat dari perkembangan intelektual, perkembangan bahasa, perkembangan sosial, perkembangan emosi, perkembangan moral, perkembangan penghayatan keagamaan, dan perkembangan motorik.
8.      Pengertian Permainan Sepak Bola
Menurut Sucipto (2010 :7) sepak bola merupakan permainan beregu, masing-masing regu terdiri dari 11 pemain, dan salah satunya penjaga gawang. Permainan sepak bola hampir seluruhnya menggunakan tungkai, kecuali penjaga gawang yang dibolehkan menggunakan lengan di daerah tendangan hukumnya. Dalam perkembangannya sepak bola dapat dimainkan di luar lapangan (out door) dan di dalam lapangan tertutup (out door).
Menurut Mujahir (2013:22) “sepak bola adalah suatu permainan yang dilakukan dengan jalan menyepak, yang mempunyai tujuan untuk memasukan bola ke gawang lawan dengan mempertahankan gawang tersebut agar tidak kemasukan bola”.
Menurut Luxbacher (2008:2) menyatakan bahwa pertandingan sepak bola oleh dua tim yang masing-masingberanggotakan 11 orang. masing-masing gawang mempertahankan gawang dan berusaha menjebol gawang lawan. 
Menurut FIFA (Federation Internationale De Football Association) “Sepak bola  adalah cabang olahraga yang menggunakan bola yang umumnya terbuat dari bahan kulit dan dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 11 orang pemain inti dan beberapa pemain cadangan”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sepak bola adalah permainan antara dua regu yang masing-masing regu terdiri dari 11 orang dan dimainkan dengan kaki, kecuali penjaga gawang,  boleh menggunakan tangan dan lengan. Setiap tim berusaha untuk memasukan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dan menjaga gawangnya dari masukan bola oleh serangan lawan dan permainan ini dilakukan selam 2 x 45 menit.
a.      Lapangan
Lapangan permainan sepak bola berbentuk persegi panjang, panjang 90-110 m dan lebarnya 45-90 m. Panjang lapangan selalu melebihi lebarnya. Lapangan diberi garis tegas yang lebarnya tidak lebih dari 12 cm. Setiap sudut lapangan diberi sebuah bendera dengan tiang berujung tumpul setinggi tidak lebih dari 1,5 m. Tiang bendera yang sama bisa di pasang di kedua ujung tengah lapangan yang letaknya tidak boleh kurang dari 1 meter di luar garis pinggir. Garis tengah lapangan ditarik melintang. Titik tengah lapangan permainan diberi tanda dengan jelas, dan diberi lingkaran dengan jari-jari 9,15 m.
Pada setiap ujung lapangan ditarik dua garis yang membentuk sudut siku-siku terhadap garis gawang dengan jarak 5,5 meter dari setiap tiang gawang. Kedua garis ini memanjang sampai 5,5 meter ke lapangan permainan dan dihubungkan dengan garis yang sejajar dengan garis gawang. Bagian yang dikelilingi oleh garis-garis ini dan garis gawang disebut daerah gawang. Pada setiap ujung lapangan ditarik dua garis yang membentuk sudut sikusiku dengan garis gawang, dengan jarak 16 meter dari setiap tiang gawang. Kedua garis ini memanjang hingga 16 meter ke lapangan permainan dan dihubungkan dengan garis yang sejajar dengan garis gawang. Bagian yang dikelilingi oleh garis-garis ini dan garis gawang disebut dengan kotak penalti. Sebuah tanda titik yang jelas diberikan di daerah penalti, dengan jarang 11 meter dari titik tengah garis gawang dan berada di depan gawang yang menunjukkan tempat untuk melakukan tendangan penalti. Dari masing-masing titik penalti ditarik sebuah garis lengkung dengan diameter 18,3 meter di luar kotak penalti.
Pada masing-masing bendera sudut terdapat seperempat lingkaran dengan jari-jari 1 meter. Daerah ini disebut dengan busur tendangan sudut. (Danny Mielke, 2010: vii)
Gawang dipasang di tengah setiap garis gawang dan terdiri atas dua tiang tegak lurus yang jaraknya sama dari bendera sudut dan lebarnya 7,33 meter (ukuran bidang dalam), yang dihubungkan dengan tiang atas mendatar
(horisontal). Tinggi tiang gawang adalah 2,44 meter dari tanah. (Danny Mielke, 2010: viii)
b.      Bola
Bola harus bulat, bagian luar terbuat dari kulit atau bahan-bahan lain yang sesuai. Tidak boleh dibuat (bola) dari bahan yang membahayakan pemain. Keliling bola tidak boleh lebih dari 71 cm dan tidak kurang dari 68 cm. Berat bola saat pertandingan dimulai tidak boleh lebih dari 450 gram dan tidak kurang dari 410 gram. Tekanan udara antara 0,6 – 1,1 atmosfer (600 – 1.100 gram/cm2) di permukaan laut.
9.      Pengeritian Permainan Sepak Bola Mini
Menurut Roeslan Hatta (2013: 9) olahraga sepak bola mini  merupakan olahraga yang dilakukan dalam ruangan atau luar ruangan  dengan panjang lapangan 38-42 meter dan lebar 15-25 meter. Dimainkan oleh 5 pemain termasuk penjaga gawang. Futsal adalah permainan hampir sama dengan sepakbola, dimana dua tim memainkan dan memperebutkan bola diantara para pemain dengan tujuan dapat memasukkan bola kegawang lawan dan mermpertahankan gawang dari kemasukan bola.
Menurut Justin Lhaksana (2004: 19) sebelum berkembang menjadi cabang olahraga yang kedudukannya sejajar dengan sepakbola rumput, futsal ditekuni sebagai sarana pengarahan dan pembentukan para pemain muda yang ingin berkarir dalam bidang futsal.
Menurut Hatta Roeslan (2013:3) sepak bola mini adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki pemain cadangan. Tidak seperti permainan sepak bola dalam ruangan lainnya, lapangan futsal dibatasi garis, bukan net atau papan.
Menurut FA Mini Soccer 2008, mengemukakan bahwa :
Mini-Soccer is the appropriate introduction to football. All available research and observation shows that children will have more fun and learn more playing a game with smaller teams and modified rules. Mini-Soccer is, therefore, a game children can ctually play rather than struggling to understand a game created for adults.
Artinya :
Sepak bola mini adalah pengenalan yang tepat untuk sepak bola. berdasarkan penelitian  dan observasi menunjukkan bahwa anak-anak akan lebih menyenangkan  dalam belajar sepak bola dan belajar lebih banyak bermain game dengan tim yang lebih kecil dan aturan diubah. Oleh karena itu, anak-anak bisa benar-benar bermain dan berkompetensi untuk kedepannya memahami permainan sepak bola untuk orang dewasa.
Dari beberapa definisi futsal menurut para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa futsal ahli merupakan permainan sepak bola yang sebenarnya, akan tetapi dimodifikasi, lapangannya diperkecil, jumlah pemain dikurangi menjadi 5 orang. Dalam olahraga futsal atau sepak bola mini ini sangat membutuhkan kecepatan dan ketepatan di dalam permainnanya.
 Beberapa aspek yang dirubah dalam permainan ini antara lain dari segi jumlah pemain dalam sebuah timnya, ukuran lapangan yang digunakan, serta peraturan yang digunakan dalam permainan.
Menurut Knut Dietrich dan K.J. Dietrich (2005: 12), kemungkinan diubah-ubahnya ‘permainan sepakbola kecil-kecilan’ memberi kemungkinan untuk mengajukan persyaatan prestasi itu dalam takaran yang selaras, yaitu melalui bentuk pemberian tugas.
1)      Perubahan Jumlah Pemain
Jumlah pemain yang lebih sedikit meningkatkan intensitas gerak masing-masing pemain. Ia akan lebih sering mendapatkan bola, dan siasat permainan menjadi lebih jelas. Jumlah pemain yang banyak memerlukan ‘semangat kelompok’ yang besar. Para pemain harus ikut berpikir dan bermain, apabila permainan yang dilangsungkan harus lebih terwujudnya daripada kumpulan aksi-aksi perseorangan belaka.
2)      Perubahan Ukuran Lapangan dan Peralatan
Lapangan permainan yang luas memberi kemungkinan untuk bermaian secara lapang, dalam mana pemain harus banyak berlari. Lapangan yang kecil menyebabkan timbulnya aksi-aksi permainan yang serba sempit, mendorong ketrampilan mengolah bola serta pengambilan tindakan yang serba cepat. Gawang yang besar merangsang permainan dalam mana banyak dilakukan ke arah gawang. Dalam menghadapi gawang yang kecil, peluang untuk menembak harus diperolah dengan cepat dan cermat. Bola karet yang elastis mendorong kepekaan mengendalikan bola. Sebaliknya bola kulit yang dipompa tidak terlalu keras lebih mudah pengendaliannya, sedang bola yang terbuat dari buntalan kain member peluang bahkan pada anak-anak didik yang belum terampil menahan bola untuk dapat bermaian dengan baik.
3)      Perubahan Peraturan Permainan
Di sini jalan permaian bisa diatur secara lain. Umpamanya untuk mendorong kerja sama antar pemain, setiap pemain hanya diperbolehkan menyentuh bola paling banyak tiga kali berturut-turut. Begitu sentuhan untuk keempat kali terjadi, bola berpindah ke pihak lawan. Menurut Sam Snow (2011: 20), konsep penyesuaian ukuran lapangan, gawang, dan bola; jumlah pemain di lapangan; dan durasi permainan untuk variasi kelompok umur untuk mengakomodasikannya dengan tingkat perkembangan dan skill pemain. Berikut ini adalah penyesuaian tersebut:
Tabel  2.1 Peraturan Sepak bola Mini
       Umur


Kategori
U6
U8
U10-
U14-16
U17- dewasa & tidak terbatas
Permainan dalam sebuh tim
Metode lapangan dalam tunggal 4-6
Metode lapangan ganda
Metode lapangan tunggal 6-8
Metode lapangan ganda 10-12
Metode lapangan tunggal 9-11
Metode lapangan ganda 14-16
11-13
11-18
Ukuran bola
3
3
4
4
5
Ukuran gawang
1,8 x 5,5 m atau lebih kecil
1,8 x 5,5 m atau lebih kecil
1,8 x 5,5 m
1,8 x 5,5 m
2,4 x 7,3 m
Ukuran lapangan
23 x 18 m
32 x 23 m
50 x 37 m
73 x 45 m
91 x 59 m
Jumlah pemain di lapangan
3 tiap tim
4 tiap tim
6 tiap tim
8 tiap tim
11 tiap tim
Lama permainan
4 x 8 menit
4 x 12 menit
2 x 25 menit
1 x 30 menit
2 x 35 menit
Berdasarkan teori-teori di atas, maka permainan sepak bola mini sesungguhnya merupakan permainan sepak bola yang sudah dimodifikasi yang menyesuaikan dengan kondisi peserta didik. Perubahan itu antara lain: (1) Lapangan yang digunakan berukuran 23 × 18 m, (2) gawang yang digunakan berukuran 2,5 × 1,5 m, (3) bola yang digunakan adalah bolakaret mini/ bola plastic mini, (4) jumlah pemain dalam setiap tim adalah 8 pemaian, 5) durasi permainan adalah 30 menit.
10.  Teknik Dasar Permainan Sepak Bola Mini
Pada umumnya permainan Sepak Bola berjalan dengan tempo yang cepat. Oleh karena itu seseorang pemain sepak bola harus memiliki keterampilan yang baik. Pemain harus dapat berlari dengan cepat, memiliki kelincahan, dapat menerima bola dengan mantap, dan dapat mengumpan bola dengan tepat ke sasaran (kawan) serta mampu melakukan tembakan yang jitu ke arah gawang lawan untuk mencetak skor. Selain itu juga pemain harus memiliki kordinasi tubuh yang baik agar dapat mengkordinasikan setiap teknik-teknik gerakkan sepak bola dengan baik pula. Oleh karena itu, dalam permainan sepak bola mini ini yang pada dasarnya mengadopsi dari permainan sepak bola, menuntut keterampilan setiap siswa.
Dalam garis besarnya, keterampilan dasar permainan sepak bola mini
terdiri dari beberapa teknik dasar, yaitu :
1)     Menggiring Bola (Dribbling)
Dribbling adalah keterampilan dasar karena semua pemain harus mampu menguasai bola pada saat bergerak, diam, ataupun dalam posisi siap untuk melakukan operan atau tembakan. Ketika pemain telah menguasai kemampuan dribbling secara efektif, maka dia akan menjadi salah satu pemain yang memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam sebuah pertandingan. Oleh karena itu dribbling merupakan salah satu teknik wajib yang harus dikuasai oleh setiap pemain.

2)      Mengoper atau Mengumpan Bola (Passing)
Sepak bola mini adalah permainan tim. Walaupun pemain yang memiliki keterampilan tinggi bisa mendominasi pada kondisi tertentu, pemain harus saling bergantung pada semua anggota tim untuk menciptakan permainan cantik dan membuat keputusan yang tepat. Agar bisa berhasil di dalam lingkungan tim ini, seorang pemain harus mengasah keterampilan mengoper bola (passing). Passing adalah seni memindahkan momentum bola dari satu pemain ke pemain lain. Passing paling baik dilakukan dengan menggunakan kaki, tetapi bagian tubuh lain juga bisa digunakan seperti kepala ataupun dada. Peluang untuk dapat melakukan tendangan shooting ke gawang akan lebih banyak diperoleh jika dapat melakukan passing dengan keterampilan dan ketepatan yang tinggi
3)      Menghentikan Bola (Stopping)
Menghentikan bola merupakan salah satu teknik dasar yang penggunaanya bersamaan dengan teknik menendang bola. Tujuan menghentikan bola untuk mengontrol bola, yang termasuk didalamnya mengatur tempo permainan, mengalihkan laju permainan dan memudahkan untuk passing.
4)       Menyundul Bola (Heading)
Menyundul bola pada hakekatnya memainkan bola dengan kepala yang bertujuan untuk mengumpan, mencetak gol, dan untuk mematahkan serangan lawan / membuang bola. Menyundul bola dapat dilakukan dengan posisi berdiri, melompat, dan sambil meloncat.
5)      Menembak (Shooting)
Shooting merupakan salah satu teknik yang mutlak harus dikuasai baik oleh pemain yang berposisi sebagai penyerang. Tembakan dilakukan jika pemain sudah menemukan waktu dan posisi yang tepat sehingga presentasi untuk menjadi gol pun akan semakin besar.
B.     Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan, yang pertama adalah penelitian yang berjudul “Strategi Sepak Bola  dalam Pendidikan PJOK terhadap Prestasi Ekstrakulikuler di SMA Negeri 45  Jakarta”, oleh Angki Kusuma Dewi dari Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2012. Menggunakan metodelogi kualitatif deskriptif. Hasil penelitiannya,bahwa strategi yang digunakan untuk meningkatkan prestasi Ekstrakulikuler sepak bola dengan memperbaiki sarana prasana, pembinaan yang teratur, dan penjejakan turtanamen Sepak bola.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Ida Saidah dari UIN Syarif Hidayatullah, yang berjudul “ Penerapan Pendidikan Jasmani Olah raga dan Kesehatan dalam meningkatkan Kualitas Belajar Menagajar Guru PJOK”. Menggunakan metodologi kualitatif deskriptif, dan hasil penelitiannya bahwa peningkatan mutu sangat tergantung oleh bagaimana pengorganisasian yang dilakukan dengan melaksanakan koordinasi antara kepala sekolah, guru dan masyarakt sekolah sehingga manajemen berbasis sekolah bisa diterapkan.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Dede Juariah dari Pascasarjana Untirta, yang berjudul “Implementasi pembelajaran Penjaskes dengan  Profesionalisme Guru dalam Meningkatkan hasil Prestasi Siswa SD Negeri 1 Muaraciujung Timur”, tahun 2014. Menggunakan metodologi kulitatif dengan hasil penelitian bahwa dalam implemenkelentasi pembelajaran Penjaskes  sangat ditentukan oleh kelengkapan sarana prasana yang menunjang dan  aspek profesionalisme guru sangat menentukan keberhasilan prestasi siswa, serta akan sangat berpengaruh dalam meningkatkan prestasi peserta didik.
Dari beberapa penelitian yang relevan terdahulu, dengan penelitian yang sedang Penulis lakukan terdapat beberapa persamaan dan perbedaan. Untuk persamaannya, 1) sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif dan 2) sama-sama membahas tentang pembelajaran hasil belajar siswa dan prestasi siswa khususnya pada mata pelajaran Penjasorkes. Sedangkan untuk perbedaannya, 1) Penelitian ini dilakukan di SMPN 16 Kota tangerang Selatan, 2) pokok bahasan di dalam penelitian ini adalah penerapan sepak bola mini, dan 3) di dalam penelitian ini menekankan kepada 5 teknik dasar dari sepak bola
C.    Kerangka Teoritik
Pembelajaran yang baik merupakan pembelajaran yang mampu melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang sesuai dengan konsep yang dipelajari. Permasalahan yang sering dihadapi dalam pembelajaran Penjasorkes kususnya pada model atau cara guru menyampaikan materi pembelajaran. Sering kali materi yang diajarkan oleh guru kurang tertanam kuat dalam benak siswa. Siswa kurang mampu menganalisis gerakan yang telah diajarkan oleh guru, sebab guru hanya menyampaikan meteri secara verbal, kalaupun memberikan contoh atau demonstrasi kurang dapat ditangkap oleh siswa secara optimal.
Permasalahan umum dalam pembelajaran Penjasorkes adalah sarana dan prasarana yang masih bisa dikategorikan kurang, serta peran aktif siswa dalam kegiatan belajar. Proses pembelajaran yang berlangsung belum menunjukkan  adanya partisipasi siswa secara penuh. Siswa berperan sebagai objek pembelajaran yang hanya bisa mendengar dan mengaplikasikan apa yang disampaikan oleh guru. Selain itu proses pembelajaran kurang mengoptimalkan penggunaan modifikasi pembelajaran yang dapat memancing peran aktif siswa.
Penggunaan modifikasi dalam pelaksanaan tindakan tiap siklusnya disesuaikan dengan topik materi yang sedang dipelajari. Modifikasi yang digunakan antara lain berupa perubahan aturan serta alat yang digunakan dalam pembelajaran permainan sepak bola. Secara lebih rinci jenis-jenis perubahan tersebut dijabarkan dalam RPP.
D.    Hipotesis Tindakan
            Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1.  Bahwa dengan penerapan sepak bola mini dalam Penjasorkes dapat meningkatkan hasil belajar siswa sepak bola pada siswa kelas IX B SMPN 16 Kota Tangerang Selatan.
2.    Bahwa dengan sepak bola mini ini akan membuat siswa menjadi lebih aktif dan melatih kecepatan bermain tim dibandingkan dengan sepak bola konvensional.
3.    Dengan sepak bola mini aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa akan meningkat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN PADA PENGELOLAAN DANA WAKAF TUNAI

HIPOTESIS PENELITIAN